Tolak Terjebak Isu Perjalanan, Warga Desa Wlahar Minta Publik Kawal Fakta Medis Kematian Sutrimo di TKP
DAERAHBanyumas – Masyarakat Desa Wlahar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meminta publik tidak terjebak pada narasi mengenai perjalanan Sutrimo sebelum meninggal dunia. Warga menilai perhatian terhadap kasus tersebut semestinya diarahkan pada fakta medis dan rangkaian kejadian yang berlangsung di Tempat Kejadian Perkara (TKP), termasuk kondisi korban ketika ditemukan serta upaya pertolongan yang dilakukan sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.
Sikap tersebut disampaikan warga di tengah berkembangnya beragam informasi dan spekulasi mengenai kematian Sutrimo. Masyarakat Desa Wlahar memilih untuk tidak menarik kesimpulan sendiri dan meminta seluruh pihak memberikan ruang kepada proses penyelidikan kepolisian serta pemeriksaan medis dan forensik untuk mengungkap penyebab kematian secara objektif.
Menurut warga, narasi yang terlalu berfokus pada perjalanan Sutrimo dari kampung halaman menuju Jakarta berpotensi membuat perhatian publik bergeser dari peristiwa yang justru terjadi pada saat-saat terakhir sebelum korban meninggal. Padahal, kondisi korban ketika ditemukan dan tindakan pertolongan yang dilakukan di lokasi merupakan bagian penting dalam rangkaian fakta yang perlu dikaji.
Pandangan tersebut sejalan dengan kesaksian yang dimuat dalam tulisan jurnalis warga di portal Kompasiana berjudul “Fakta Terungkap, Perjuangan Medis dan Kemanusiaan Demi Selamatkan Sutrimo”. Tulisan tersebut menguraikan keterangan saksi kunci mengenai kondisi Sutrimo serta rangkaian upaya pertolongan yang dilakukan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Berdasarkan kesaksian tersebut, dua rekan almarhum berinisial A dan F disebut melakukan kontak telepon untuk meminta bantuan setelah melihat kondisi kesehatan Sutrimo mengalami penurunan drastis. Ketika saksi kunci tiba di lokasi, Sutrimo disebut masih bernapas dan dapat memberikan respons.
Saksi juga menggambarkan adanya sejumlah gejala medis berat yang dialami korban, seperti batuk hebat, mengeluarkan dahak berbusa, serta mengalami kesulitan bernapas. Kondisi tersebut menjadi fakta medis di lapangan yang menurut warga penting untuk ditempatkan dalam konteks penyelidikan secara menyeluruh.
Upaya pertolongan kemudian dilakukan dengan membawa Sutrimo menuju fasilitas kesehatan. Bagi masyarakat Desa Wlahar, rangkaian pertolongan tersebut merupakan bagian dari fakta kejadian yang tidak boleh diabaikan ketika publik membicarakan penyebab kematian almarhum.
Tokoh masyarakat Desa Wlahar, Suparno (52), meminta masyarakat tidak mudah terbawa oleh narasi yang belum memiliki dasar pembuktian.
“Kami di desa tentu sangat berduka atas berpulangnya almarhum Sutrimo. Namun, kita harus bijak menyikapi berita yang beredar. Jangan sampai cerita perjalanan atau dugaan yang belum jelas justru menutupi fakta bahwa di sana ada upaya pertolongan medis yang dilakukan oleh teman-temannya. Kami warga di sini lebih percaya pada kesaksian saksi kunci yang memang ada di TKP dan hasil penyelidikan resmi dari kepolisian,” ujar Suparno saat ditemui di kediamannya.
Suparno menilai masyarakat tidak perlu ikut membangun kesimpulan mengenai penyebab kematian hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, fakta mengenai kondisi Sutrimo ketika ditemukan harus diperiksa bersama dengan bukti medis dan keterangan saksi yang berada langsung di lokasi.
Hal senada disampaikan Septo (44), warga Desa Wlahar lainnya. Ia meminta proses hukum berjalan secara transparan sehingga masyarakat maupun keluarga almarhum memperoleh kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Bagi kami yang awam, menentukan penyebab kematian itu kan tugas ahli forensik dan polisi, bukan tebak-tebakan dari luar. Keterangan saksi kunci soal kondisi almarhum yang sempat diusahakan dibawa ke rumah sakit itu fakta di lapangan yang logis. Harapan kami, kepolisian bisa membuka hasil pemeriksaan medis secara terang benderang supaya almarhum tenang dan keluarga mendapatkan keadilan yang sejati,” tutur Septo.
Warga Desa Wlahar juga mengingatkan bahwa penentuan cause of death tidak dapat dilakukan berdasarkan asumsi atau hanya dengan menghubungkan satu rangkaian perjalanan korban. Penyebab kematian harus ditentukan melalui pemeriksaan medis dan forensik serta bukti-bukti lain yang diperoleh dalam proses penyidikan.
Karena itu, masyarakat menyerahkan penentuan penyebab kematian Sutrimo kepada pihak yang berwenang dan memiliki kompetensi, termasuk penyidik serta dokter forensik. Hasil pemeriksaan patologi, toksikologi, maupun pemeriksaan lain yang dilakukan dalam rangka penyidikan diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai kondisi korban.
Bagi warga Desa Wlahar, mengawal kasus bukan berarti membangun opini atau menentukan siapa yang salah sebelum proses hukum selesai. Mengawal kasus berarti memastikan setiap fakta diperiksa, setiap kesaksian yang relevan didengar, dan setiap hasil pemeriksaan medis dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat berharap publik tidak terjebak dalam perdebatan mengenai perjalanan Sutrimo, tetapi ikut mengawal proses pengungkapan fakta yang terjadi di TKP. Dengan mengedepankan kesaksian saksi, bukti medis, pemeriksaan forensik, dan hasil penyelidikan resmi, warga berharap kematian Sutrimo dapat diungkap secara transparan dan memberikan kepastian hukum bagi keluarga almarhum. (Tim/MI)
