62 Tahun Unkhair: Meneguhkan Keunggulan Kepulauan di Tengah Arus Perubahan
DAERAH, Uncategorized![]()
Oleh: Syahril Muhammad
Dosen FKIP Universitas Khairun
TERNATE – Usia 62 tahun menandai fase kematangan Universitas Khairun (Unkhair). Pada tahap ini, ukuran sebuah perguruan tinggi bukan lagi usia institusi, melainkan kapasitasnya menghasilkan ilmu pengetahuan, melahirkan sumber daya manusia unggul, serta memberi dampak nyata bagi pembangunan.
Karena itu, Dies Natalis ke-62 bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan momentum untuk menegaskan kembali posisi dan arah strategis Unkhair di tengah perubahan global.
Unkhair lahir dari ikhtiar kolektif masyarakat dan pemerintah daerah melalui Yayasan Khairun sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan tinggi di Maluku Utara. Dari fondasi tersebut, Unkhair tumbuh menjadi perguruan tinggi negeri terbesar di provinsi ini dengan ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang.
Kontribusi itu menempatkan Unkhair bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai aktor penting dalam pembangunan daerah. Namun, sejarah hanya menjadi pijakan. Reputasi akademik dibangun oleh kemampuan membaca perubahan, menghasilkan inovasi, dan menawarkan solusi atas persoalan masyarakat.
Dalam konteks itulah visi Unkhair sebagai universitas berbasis kepulauan dan kemajemukan memperoleh relevansi strategis. Visi tersebut bukan sekadar identitas kelembagaan, melainkan paradigma akademik yang membedakan Unkhair dari banyak perguruan tinggi di Indonesia.
Maluku Utara adalah laboratorium hidup yang menyimpan kekayaan hayati, kelautan, geologi, sejarah, bahasa, dan budaya. Seluruh potensi tersebut semestinya menjadi basis pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Paradigma kepulauan menuntut cara pandang baru dalam pendidikan tinggi.
Selama ini, sebagian besar teori dan kebijakan lahir dari perspektif wilayah kontinental, padahal masyarakat kepulauan menghadapi persoalan yang khas: konektivitas antarpulau, pembangunan pesisir, pengelolaan sumber edaya laut, mitigasi bencana, perubahan iklim, hingga ekonomi maritim.
Tantangan tersebut membutuhkan pengetahuan yang lahir dari pengalaman empiris kawasan kepulauan, bukan sekadar adaptasi teori yang dikembangkan di tempat lain.
Di sinilah Unkhair memikul tanggung jawab akademik yang besar. Kampus ini harus menjadi pusat produksi pengetahuan kepulauan yang melahirkan riset berkualitas, inovasi yang relevan, dan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Dengan demikian, kepulauan ßtidak lagi dipahami sebagai keterbatasan geografis, melainkan sebagai sumber keunggulan komparatif sekaligus keunggulan akademik yang dapat memberi kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan nasional dan global.
Keunggulan itu semakin bermakna ketika berpijak pada kemajemukan. Maluku Utara merupakan ruang sosial yang dibangun oleh keberagaman suku, bahasa, agama, dan tradisi.
Di tengah menguatnya polarisasi di berbagai belahan dunia, perguruan tinggi berkewajiban merawat toleransi, memperkuat dialog, dan menumbuhkan budaya akademik yang inklusif. Kampus harus menjadi ruang di mana perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan diolah menjadi energi intelektual bagi kemajuan bersama.
Memasuki usia ke-62, tantangan Unkhair semakin kompleks. Transformasi digital, kecerdasan artifisial, kompetisi global, tuntutan peningkatan kualitas riset, dan internasionalisasi pendidikan tinggi menuntut tata kelola yang adaptif serta kolaborasi yang semakin luas.
Karena itu, penguatan kualitas dosen, budaya riset, jejaring internasional, dan tata kelola berbasis merit harus menjadi agenda utama agar Unkhair tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga memimpinnya.
Pada akhirnya, Dies Natalis ke-62 merupakan momentum untuk meneguhkan komitmen seluruh sivitas akademika. Masa depan Unkhair tidak ditentukan oleh usia institusi, melainkan oleh keberanian melahirkan gagasan baru, membangun kolaborasi, dan menjaga integritas akademik.
Dari Ternate, Unkhair memiliki peluang besar menjadi rujukan pengembangan ilmu pengetahuan kepulauan di Indonesia. Jika identitas kepulauan dan kemajemukan benar-benar dijadikan fondasi pengembangan tridarma, Unkhair bukan hanya akan menjadi kebanggaan Maluku Utara, tetapi juga tampil sebagai universitas yang memberi arah bagi masa depan Indonesia sebagai negara kepulauan. (Arin/MI).