Prosesi Permohonan Maaf Tiga Konten Kreator di Kadaton Ternate, Pemangku Adat Sambut dengan Baik.
DAERAH
Maluku Utara – Tiga konten kreator, Angga Dermawan, Rahman Muhamad (Tete Ko), dan Rizky Saimima, menyampaikan refleksi mendalam terkait video tarian adat Togale yang sempat menuai kontroversi di kalangan masyarakat adat Tobelo–Galela Halmahera Utara. Selasa, 04/7/2026.
Dalam pernyataan terpisah, ketiganya menegaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah tindakan yang disengaja untuk merendahkan budaya, melainkan bentuk kelalaian dalam memahami konteks budaya lokal yang memiliki nilai dan makna mendalam.
Angga Dermawan mengungkapkan bahwa pengalaman ini menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab kreator di ruang digital.
“Sebagai kreator, kami sering fokus pada Engagement dan Kreativitas, tapi lupa bahwa ada batas etika yang harus dijaga, terutama saat menyentuh budaya orang lain,” ujarnya.
Rahman Muhamad (Tete Ko) menambahkan bahwa dirinya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses kreatif yang ia gunakan selama ini.
“dalam hal ini menjadi pembelajaran untuk saya bahwa riset budaya itu wajib, bukan pilihan. Dan kesalahan ini tidak akan saya ulang,” katanya.
Sementara itu, Rizky Saimima menekankan pentingnya edukasi budaya dalam industri konten digital yang semakin berkembang pesat.
“Kami harus lebih banyak belajar, berdialog dengan masyarakat adat, dan tidak hanya mengambil budaya sebagai materi visual,” ungkapnya.
Ketiganya sepakat bahwa kasus ini menjadi pembelajaran kolektif bagi para kreator muda lainnya untuk lebih berhati-hati dalam mengangkat simbol budaya, terutama yang memiliki nilai sakral bagi komunitas tertentu.
Mujais Apling, salah satu perwakilan masyarakat adat Halmahera Utara, mengatakan bahwa setelah melalui serangkaian tahapan silaturahmi, puncak prosesi permohonan maaf secara langsung dari tiga konten kreator di laksanakan di Kadaton Ternate, dari prosesi tersebut dihadiri oleh para pemangku adat Halmahera Utara, serta disaksikan oleh pihak petinggi adat Kadaton Ternate.
Ia menjelaskan bahwa permohonan maaf tersebut disikapi dengan baik oleh para pemangku adat melalui prosesi yang telah diatur sesuai ketentuan dan nilai-nilai adat yang berlaku.
Mujais juga menyampaikan harapannya agar peristiwa ini tidak terulang kembali dan dapat menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak, terutama para konten kreator.
“Pesan saya, yang paling terpenting dari hal ini adalah, jangan hanya menyalahkan kesalahan yang telah terjadi, melainkan lebih mengutamakan cara merangkul dan mencari jalan penyelesaian bersama. Karena kita semua adalah manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan,” tutupnya. (Arin/MI)