Di Tengah Gemerlap Hilirisasi Nikel, Warga Obi Mengaku Kehilangan Tanah dan Harapan
DAERAH
Halmahera Selatan – Pulau Obi selama ini dipromosikan sebagai simbol keberhasilan hilirisasi industri nikel nasional. Kawasan industri tumbuh cepat, investasi terus masuk, dan nama Indonesia semakin diperhitungkan dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Namun di balik megahnya proyek industri tersebut, muncul suara rakyat kecil yang mengaku mulai kehilangan tanah, ruang hidup, bahkan harapan mereka sendiri.
Konflik lahan antara masyarakat Desa Soligi dan Harita Group kini menjadi potret lain dari wajah pembangunan industri di daerah tambang. Warga menilai kemajuan yang dibanggakan negara justru dibayar mahal oleh masyarakat lokal yang harus berhadapan dengan tekanan akibat ekspansi perusahaan.
Bagi warga, tanah di Obi bukan sekadar aset ekonomi. Di atas tanah itulah mereka berkebun, membesarkan keluarga, dan mempertahankan kehidupan sejak lama sebelum industri tambang hadir. Namun kini masyarakat merasa semakin tersingkir oleh kepentingan investasi berskala besar.
Aksi protes yang dilakukan warga di kawasan bandara perusahaan menjadi simbol kegelisahan masyarakat yang merasa suara mereka tidak lagi didengar. Mereka menuntut penyelesaian sengketa lahan secara adil dan meminta negara tidak hanya berpihak kepada perusahaan besar.
Di tengah semangat hilirisasi nasional, publik mulai mempertanyakan apakah pembangunan benar-benar membawa kesejahteraan merata atau justru melahirkan ketimpangan baru di daerah penghasil sumber daya alam.
Warga menilai pemerintah terlalu fokus mengejar pertumbuhan investasi tanpa memastikan perlindungan hak masyarakat lokal. Bahkan muncul tuntutan agar Presiden Republik Indonesia turun tangan langsung mengevaluasi aktivitas Harita Group di Pulau Obi.
Menurut masyarakat, negara tidak boleh membiarkan rakyat kecil kalah hanya karena berhadapan dengan perusahaan besar yang memiliki kekuatan modal dan pengaruh luas. Jika konflik agraria terus dibiarkan, maka hilirisasi yang selama ini dibanggakan justru berisiko meninggalkan luka sosial berkepanjangan.
Pulau Obi hari ini bukan hanya bicara soal tambang nikel dan investasi miliaran rupiah. Obi sedang bicara tentang rakyat yang ingin tetap hidup di tanah mereka sendiri, tanpa harus menjadi korban atas nama pembangunan nasional. Red